Minggu, 07 Juni 2009

Demam berdarah Dengue

Makalah Diskusi Kelompok
Modul Pengantar Klinik Bedah (MP 6
Demam berdarah dengue
Kelompok 6

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

Jakarta, 4 juni 2009

BAB I
Pendahuluan
Demam Berdarah adalah salah satu penyakit infeksi yang serius dan dikenal pula dengan sebutan DBD (Demam Berdarah Dengue). Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air.


BAB II
II.1. Pembahasan
STATUS MEDIS
Identitas Pasien
Nama Mrs. V
Tempat/ Tanggal Lahir Jakarta, 17 Agustus
Umur 8 Tahun
Jenis Kelamin Perempuan
Pekerjaan Siswa
Alamat Pulau Gebang


Anamnesis
Keluhan utama : demam, lesu, muntah
Pertanyaan anamnesis :
– Sudah demam berapa lama?
– Apakah panasnya naik turun?
– Apa ada rasa nyeri di belakang kepala?
– Disekitar rumah apa ada yang terkena demam berdarah juga?
– Apa ada nyeri perut?
– Apa tenggorokan terasa sakit?
– Frekuensi muntah?
– Sudah diberi obat apa?

Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi : ada petechiae, lidah dan tonsil normal, pharyng hiperremis
2. Palpasi : petechiae tidak hilang waktu ditekan, nyeri tekan epigastrium, hepar lien tidak teraba.
Pemeriksaan Laboratorium



Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik kepada pasien etiologinya antara lain :
1. Nyamuk aedes aegypti : karena pemukiman tempat tin ggalnya padat, dengan rumah yang letaknya berdempetan, dan banyak ditemukan kaleng kosong, pot bunga yang berisi air. Ini kemungkinan besar tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.
2. Petechiae dan nyeri epigastrium merupakan gejala khas dari demam berdarah.
3. Nilai trombosit yang kurang dari 100.000 (Trombositopenia) dan nilai hematokrit meningkat menunjukan adanya kebocoran plasma darah karena peningkatan permeabiltis kapiler darah.
4. Limfositosis menunjukan adanya infeksi akut virus, eosinopenia menunjukan infeksi berat, neutropenia adanya infeksi virus seperti dengue, influenza, mononucleosis.



Pemeriksaan Penunjang :

Hemeaglutinasi
Uji Imuno Serologi
Uji serologi memakai serum ganda
Uji serologi memakai serum tunggal
Pemeriksaan Radiologis

PENATALAKSANAAN
Virus hanya bisa dilawan oleh Imunitas dari pasien itu sendiri.
Prinsip utama adalah terapi suportif.
Pemeliharaan volume cairan sirkulasi dan istirahat.
Seperti diberi minum 1,5-2 liter dalam 24 jam.
Jika pasien tidak bisa peroral, diberikan melalui intravena (Ringer Laktat).
Pemberian antibiotik bukannya tidak boleh dilakukan tetapi diberikan dengan kondisi tertentu seperti kemungkinan terjadinya infeksi sekunder / infeksi nosokomial dalam kurun waktu 3x24 jam jika dirawat di rumah sakit.



Nyamuk Aedes aegypti :

Berdiam dalam rumah terutama di tempat gelap
Menggigit saat pagi hari dan sore hari.
Berkembang biakdi air yang jernih
Tidak ada cara untuk membedakan nyamuk yang membawa virus dengue atau tidak


daur hidup Aedes aegypti betina yang mengisap darah
sedangkan jantan mengisap keringat



Mekanisme Terjadinya Demam

Demam dapat timbul dari terpaparnya tubuh manusia terhadap pirogen eksogen yang kemudian akan mengakibatkan terstimulasinya pirogen endogen untuk melindungi tubuh dan menciptakan kekebalan melawan pirogen eksogen tersebut, atau disebabkan pengaruh pirogen endogen itu sendiri. Contoh pirogen endogen yanga ada dalam tubuh adalah interleukin-1 (IL-¬1), α-interferon, dan tumor necrosis factor (TNF). IL-1 berperan penting dalam mekanisme pertahanan tubuh yaitu antara lain dapat menstimulasi limfosit T dan B, mengaktivasi netrofil, merangsang sekresi reaktan (C¬reactive protein, haptoglobin, fibrinogen) dari hepar, mempengaruhi kadar besi dan seng plasma dan meningkatkan katabolisme otot. IL¬-1 bereaksi sebagai pirogen yaitu dengan merangsang sintesis prostagalndin E2 di hipotalamus, yang kemudian bekerja pada pusat vasomotor sehingga meningkatkan produksi panas sekaligus menahan pelepasan panas, sehingga menyebabkan demam. TNF (cachectin) juga mempunyai efek metabolisme dan berperan juga pada penurunan berat badan yang kadang-kadang diderita setelah seseorang menderita infeksi. TNF bersifat pirogen melalui dua cara, yaitu efek langsung dengan melepaskan prostaglandin E2 dari hipotalamus atau dengan merangsang perlepasan IL-1. Sedangkan, alpha-interferon (IFN-α) adalah hasil produksi sel sebagai respons terhadap infeksi virus.

Prostaglandin yang dihasilkan pirogen-pirogen itu kemudian mensensitisasi reseptor dan diteruskan oleh resptor sampai hypotalamus yang akan menyebabkan peningkatan derajat standart panas hypotalamus (Hypotalamic Termostat). Peningkatan derajat standart panas hypotalamus inilah yang akan memicu sistem pengaturan suhu tubuh (termoregulation) untuk meningkatkan suhu, maka terjadilah demam.




Dangue Haemorragic Fever

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) Adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae, dengan genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotipe virus Dengue.
Virus Dengue
Virus Dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, 2, 3 dan 4. Struktur antigen ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan perlindungan silang.. Variasi genetik yang berbeda pada ke-4 serotipe ini tidak hanya menyangkut antar serotipe, tetapi juga didalam serotipe itu sendiri tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Pada masing-masing segmen codon, variasi diantara serotipe dapat mencapai 2,6 ? 11,0 % pada tingkat nukleotida dan 1,3 ? 7,7 % untuk tingkat protein. Perbedaan urutan nukleotida ini ternyata menyebabkan variasi dalam sifat biologis dan antigenitasnya.
Virus Dengue yang genomnya mempunyai berat molekul 11 Kb tersusun dari protein struktural dan non-struktural. Protein struktural yang terdiri dari protein envelope (E), protein pre-membran (prM) dan protein core (C) merupakan 25% dari total protein, sedangkan protein non-struktural merupakan bagian yang terbesar (75%) terdiri dari NS-1 ? NS-5. Dalam merangsang pembentukan antibodi diantara protein struktural, urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E, kemudian diikuti protein prM dan C. Sedangkan pada protein non-struktural yang paling berperan adalah protein NS-1. 1,2

Patofisiologi Demam Berdarah
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami, namun terdapat dua perubahan patofisiologis yang menyolok, yaitu Meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat (24-48 jam).
Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan.Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai pada pasien DBD. Kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan C3a serta C5a meningkat. Mekanisme aktivasi komplemen tersebut belum diketahui. Adanya kompleks imun telah dilaporkan pada DBD, namun demikian peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab aktivasi komplemen pada DBD belum terbukti.
Selama ini diduga bahwa derajat keparahan penyakit DBD dibandingkan dengan DD dijelaskan dengan adanaya pemacuan dari multiplikasi virus di dalam makrofag oleh antibodi heterotipik sebagai akibat infesi Dengue sebelumnya. Namun demikian, terdapat bukti bahwa faktor virus serta respons imun cell-mediated terlibat juga dalam patogenesis DBD.


BAB III


Kesimpulan
Berdasarkan gambaran klinik dan hasil pemeriksaan yang telah dilaksanakan, pasien dapat dipastikan menderita demam berdarah derajat I (ringan). Pasien diharuskan untuk banyak beristirahat dan minum air agar tidak kekurangan cairan plasma. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting dalam penanganan kasus DBD. Dengan terapi supportif yang intensif, maka prognosis penyakit pasien akan menjadi lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

1. Sudoyo, aru W. ilmu penyakit dalam edisi: IV jilid: 3 FKUI Mei 2007. p: 1709-1712.
2. Rahman b. DBD Available at : http://rahmanbudyono.wordpress.com/2009/01/28/makalah-kesehatan_db/. Accessed 1 june 2009
3.________. Available at : http://one.indoskripsi.com/node/746. Accessed 1 june 2009 patog
4.________ Available at: http://puskesmasnanpermai.blogspot.com Accessed 1 june 2009
5. Ganong, W, F. Physiology. 22nd edition.The McGraw – Hill Companies. New York :2005.
6. .________. Available at: http://www.blogdokter.net/2008/06/27/demam-berdarah-dengue/ . Accessed 2 june 2009.

2 komentar:

azhari mengatakan...

woy, makalah gw tuh...izin dulu ama gw!

hahaha..

buk cik pak cik buk buk ciku cik...(musa style dgn saliva muncrat kemana2)

ahmadmusa mengatakan...

begini bung azhari.. nie makala punya kelompok 6. anda nga boleh ngaku22

Poskan Komentar